Jumat, 06 November 2015

Kau Menamparku "Untuk Jadi Dewasa"

 ndul?

apa kabar?
ku pikir aku sudah melupakanmu..
ku pikir aku adalah wanita kuat
lama kupikir akulah yang sudah tiada..


 ndul?
belum lama rasanya kamu pergi meninggalkanku begitu saja
belum lama rasanya rasa sakit itu mampu aku tahan sendirian




Sudah puluhan tahun aku hidup, puluhan tahun pula aku belajar memahami bagaimana sifatku. Bagiku atau bagi mereka persepsi tentang diriku berbeda.
persepsiku " aku adalah orang baik" ( sering kali aku menyombongkan diri) " aku seorang wanita yang dewasa" ( sering aku tak berkaca)
ternyata tak ku sangka mindset ku di bantah mentah-mentah oleh seseorang yang sudah pernah ingin aku buang jauh-jauh dari kehidupanku...
iya... kamu datang lagi setelah 3 tahun kamu tinggalkan aku bagaikan angin lalu, angin yang tak pernah dirindukan oleh insan manapun. Tapi entah mengapa kamu adalah sosok yang selalu aku rindukan.

suatu ketika aku menyombongkan semua punyaku kepadamu, menyombongkan aku ini siapa, menyombongkan apapun yang aku tahu..
tercengang saat itu kau "mematahkan argumenku"
kau berbicara seolah kau adalah Ayahku.. Kau menasehatiku bagaimana aku harus bersikap sesuai umurku. Seolah kamu menghadapkan sebuah cermin seukuran badanku, dan aku bisa melihat wujud asliku seperti apa?
kau memaparkan dan mendeskripsikan sesosok wanita sepertiku, bahwa nyatanya aku tak lebih dari seorang bayi, ternyata aku masih anak-anak yang belum mengerti apapun tentang hakekat kehidupan."kenapa kau mennagis?" tanyamu " aku malu" jawabku "tak usah malu, tak usah menyesali apapun yang terjadi, karena masa lalu kita tidak pernah ada baik-baiknya sama sekali. belajarlah mulai detik ini untuk menjadi wanita yang dewasa, memahami situasi diri sendiri atau pun orang lain, jangan menuntut apa yang belum menjadi hakmu." saat itu aku terdiam, mulutku terkunci. " Apa aku masih seperti anak-anak?" tanyaku " Mulailah berpikir, apa yg kamu lakukan saat ini adalah kedewasaa? sudahlah, mari sama-sama perbaiki diri kita, kita jalani ini bersama. suatu saat semoga kita bisa menyatukan mimpi yang pernah tertunda".
lalu ku jawab dengan dengan isak tangis, " iya ndul, terima kasih untuk secercah harapan malam ini"

kau adalah temanku, sahabatku, oarang yang ku sayang, orang yang aku harapkan. kamu adala sosok pertama yang mampu menyadarkan betapa angkuhnya aku, betapa sering aku menyombongkan diri, bahwa nyatanya aku bukan siapa-siapa"

"terima kasih sudah menjadi sesosok yang mampu membuatku jauh lebih dewasa"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar